Namaku Indana (2)
Bab 2 : Misel)
” Misel, kalau berani satu lawan satu, sekarang !!” Gadis yang berteriak tadi berusaha menarik baju gadis, yang di depannya.
” Bukannya, memang sudah ?” Farah meninggalkan Misel dengan menyisakan tawa mengejek.
Hari ini tidak ada yang bisa dikerjakan lagi, proyek terakhir sudah selesai dan sepertinya tidak akan ada perpanjangan lagi. Farah berusaha untuk tetap bersikap tenang, terutama untuk menyambut ulangtahunnya yang ke-15, batas maksimum anak-anak bisa tetap tinggal di panti asuhan ini. Nona Sammy pernah berkata, kalau mereka bisa tetap tinggal asalkan mempunyai penghasilan sendiri, mereka hanya akan mendapatkan tempat berteduh dan biaya lainnya terutama untuk makan, harus dicari sendiri. Dirinya masih memiliki harapan untuk tinggal, karena Misel dengan pintar berhasil melakukan negosiasi dengan Nona Sammy, kalau tidak dirinya pasti harus segera pergi tanpa ada kesempatan apapun. Sudah bertahun-tahun dia bermimpi dan berusaha keras agar ada orangtua angkat yang mau mengambil dirinya, tapi sikap manis dan semua persiapannya untuk menghadapi calon orangtua angkatnya, tidak pernah berhasil. (Misel juga tidak pernah berhasil mendapatkan orangtua angkat, tapi dia tenang-tenang saja). Sekarang dirinya sudah lelah bersikap manis, di depan teman-teman, di depan calon orangtua angkat bahkan di depan Tuhan. Mungkin Tuhan tahu, sikap rajin berdoanya, puasanya dan sikap penolongnya adalah udang di balik batu, dia sangat menginginkan mendapat orangtua angkat.
” Farah, ada yang mencarimu.” Misel tersenyum manis padanya, pasti ada maunya.
” Siapa ?” Senyum Misel semakin lebar.
” Yuyon… dia bawa makanan loh…” Mood Farah langsung jelek. Untuk apa orang aneh itu datang ke sini ?? engga tahu diri banget sih ?!
” Jangan tolak dia Farah, ini sudah yang ke-11 kalinya.”
” Kamu menghitungnya? rajin sekali. Kamu sudah tahu jawabanku kan ?” Farah segera beranjak pergi dari tempat duduknya. Misel memandang Farah dengan tatapan sedih.
” Hai Yuyon, kamu bawa apa ?” Misel segera mengambil makanan yang ada di tangan Yuyon.
” Mana Farah ?” Yuyon berusaha menahannya.
” Dia sedang jengkel, kamu tahu kan seperti apa Nona Sammy…Sini makanannya, biar aku berikan ke Farah,..”
” Benar..?” Misel tersenyum manis.
” Iya, aku janji….” Mereka terdiam cukup lama.
” Dia tidak mau menemuiku ya ?” Misel tersenyum tipis.
” Mungkin, ini hari terakhirku di sini….” Misel mengerutkan dahinya.
” Hari terakhir ? mau kemana ?”
” Aku mendapat pekerjaan, tapi tempatnya jauh…”
” O…h…”
” Bagaimana kakimu Misel, masih sakit ?” Misel menggeleng.
” Tidak mau mengatakan apa-apa padaku ?” Misel tersenyum tipis.
” Mau bicara apa ? aku gak tahu…” Misel mengangkat bahunya.
” Maaf ya… untuk semuanya….kamu mengerti kan.” Misel mengangguk. Perlahan Yuyon berdiri.
” Eh, nanti aku akan berikan salam untuk Farah…” Yuyon menggeleng.
” Andai semua bisa diubah….” Yuyon geleng-geleng kepala pelan lalu beranjak menuju pintu depan.
” Tidak perlu mengantar aku besok. Kita bertemu 3 tahun lagi ya…” Hari itu, Misel merasa dunianya jungkir balik.
——————————————————————–
” Anak-anak, besok kita akan merayakan hari kemerdekaan. Pak RT meminta kita untuk mengisi acara gerak jalan dan ikut perlombaan-perlombaan.
” Uhuy, ketemu Pak RT yang ganteng….”
” Sut,.. Misel, memang kamu suka ya…sama…”
” Enak aja, masa aku suka sama om-om, yang benar saja. Aku ingin menjodohkan Nona Jenny sama Pak RT…” Nona Jenny adalah wakil Nona Sammy.
” Sekarang kamu jadi mak comblang ya..?”
” Risa, Nona Jenny itu cocok banget sama Pak RT, dia lembut, keibuan, penyayang, sabar, beda sama Nona Sammy. Kalau Pak RT jadian sama Nona Sammy, beliau bisa jadi anggota ISTI….”
” Apa itu, Sel ?”
” Ikatan suami takut Istri….” Anak-anak yang duduk semeja dengan Misel kontan tertawa geli mendengar perkataan Misel.
” Waktunya berdoa…” Nona Sammy membunyikan loncengnya.
Udara terasa panas sekali tapi mereka harus tetap berdiri di lapangan untuk mendengarkan pidato Pak RT.
” Wargaku…. saya sangat senang kita semua bisa berkumpul di sini bersama-sama….”
” Hidup Pak RT… Hidup Pak RT…” Misel dan teman-temannya berdiri di dekat panggung dan terus bersorak setiap Pak RT menyelesaikan satu kalimat pidatonya. Setelah Nona Sammy menjewer telinga Misel, baru mereka diam. Di acara kerja bakti, Misel melirik ke arah Risa dan memberikan kode, ketika melihat Pak RT membantu Nona Jenny memasukkan sampah ke dalam plastik hitam.
” Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu….”
” Hu…hu…hu….” Teman-teman Misel kompak menjadi Backing Vokalnya.
” Kemesraan ini, Harus ditindaklanjuti….”
” Ha…ha..ha…”
” Kalian bisa diam tidak ?!” Tiba-tiba Nona Sammy membentak galak.
” Nona Sammy, kami kan hanya merasa bahagia dengan keakraban antar warga. Coba kalau kegiatan ini sering diadakan, kita bisa semakin akrab dan tidak saling cuek antar warga, bukan begitu Pak RT…”
” Eh ya, betul itu, pemikiran yang sangat bagus. Memang itu yang ingin saya tanamkan di warga sini….” Misel tersenyum manis ke arah Nona Sammy yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.