<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pintu_Depan</title>
	<atom:link href="http://irvinia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irvinia.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 24 Jul 2011 04:35:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irvinia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pintu_Depan</title>
		<link>http://irvinia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irvinia.wordpress.com/osd.xml" title="Pintu_Depan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irvinia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Namaku Indana (2)</title>
		<link>http://irvinia.wordpress.com/2010/05/28/namaku-indana-2/</link>
		<comments>http://irvinia.wordpress.com/2010/05/28/namaku-indana-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 19:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irvnauli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Namaku Indana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irvinia.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Bab 2 : Misel) Suasana hening, mendadak di pecahkan oleh teriakan jengkel.&#8221; Misel, kalau berani satu lawan satu, sekarang !!&#8221; Gadis yang berteriak tadi berusaha menarik baju gadis, yang di depannya. &#8221; Aku bukan budakmu, Farah !&#8221; Misel berhasil melepaskan diri dan naik ke atas meja. Farah tampak sangat gemas dan ikut naik ke atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvinia.wordpress.com&amp;blog=5973375&amp;post=68&amp;subd=irvinia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"><br />Bab 2 : Misel)</span></div>
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"><em>Suasana hening, mendadak di pecahkan oleh teriakan jengkel</em>.<br />&#8221; Misel, kalau berani satu lawan satu, sekarang !!&#8221; Gadis yang berteriak tadi berusaha menarik baju gadis, yang di depannya.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Aku bukan budakmu, Farah !&#8221; Misel berhasil melepaskan diri dan naik ke atas meja. Farah tampak sangat gemas dan ikut naik ke atas meja untuk mengejar Misel. Beberapa anak perempuan masuk ke dalam ruangan dan salah satu dari mereka membawa tape kecil lalu memasang lagu &#8221; I will survive &#8220;</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Yiha&#8230;yiha&#8230;come and get me, baby &#8221; Misel tersenyum mengejek dan teman-teman mereka semakin ramai memberi semangat.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Ada apa ini ?&#8221; </span></div>
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"><span id="more-68"></span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Nona Sammy..&#8221; Mereka meninggalkan Farah dan Misel dengan terburu-buru, sedangkan Misel dan Farah hanya bisa terpaku di tempatnya, tidak bisa melarikan diri.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"> </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Turun kalian berdua, sejak kapan meja belajar digunakan untuk berlari-larian&#8230;.&#8221; Perlahan mereka turun dari meja dan berjalan ke arah Nona Sammy dengan wajah tertunduk.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"> </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Kalian tahu sekarang jam berapa ?&#8221; </span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Tahu nona Sammy, jam 4 pagi.&#8221;</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Apa ini waktu yang tepat untuk berteriak-teriak dan naik ke atas meja ?&#8221; Farah dan Misel menggeleng pelan.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Saya sudah bosan melihat pertengkaran kalian berdua. Berdamai atau keluar dari tempat ini.&#8221; Tidak ada yang berani bersuara.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Lanjutkan tugas kalian&#8230;&#8221; Farah dan Misel berlari ke arah ruang cuci baju dengan perasaan lega.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Mungkin Nona Sammy benar.&#8221; Misel menoleh ke arah Farah.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Maksudnya ?&#8221;</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Kamu harus keluar dari tempat ini&#8230;.&#8221; Misel ingin menjambak rambut Farah, tapi ditahannya. Mungkin saja Nona Sammy ada di sekitar sini.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8221; Kamu mengobarkan perang, Farah ?&#8221; Nada suara Misel pelan, tapi mengancam.<br />
&#8221; Bukannya, memang sudah ?&#8221; Farah meninggalkan Misel dengan menyisakan tawa mengejek.</p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Hari ini tidak ada yang bisa dikerjakan lagi, proyek terakhir sudah selesai dan sepertinya tidak akan ada perpanjangan lagi. Farah berusaha untuk tetap bersikap tenang, terutama untuk menyambut ulangtahunnya yang ke-15, batas maksimum anak-anak bisa tetap tinggal di panti asuhan ini. Nona Sammy pernah berkata, kalau mereka bisa tetap tinggal asalkan mempunyai penghasilan sendiri, mereka hanya akan mendapatkan tempat berteduh dan biaya lainnya terutama untuk makan, harus dicari sendiri. Dirinya masih memiliki harapan untuk tinggal, karena Misel dengan pintar berhasil melakukan negosiasi dengan Nona Sammy, kalau tidak dirinya pasti harus segera pergi tanpa ada kesempatan apapun. Sudah bertahun-tahun dia bermimpi dan berusaha keras agar ada orangtua angkat yang mau mengambil dirinya, tapi sikap manis dan semua persiapannya untuk menghadapi calon orangtua angkatnya, tidak pernah berhasil. (Misel juga tidak pernah berhasil mendapatkan orangtua angkat, tapi dia tenang-tenang saja). Sekarang dirinya sudah lelah bersikap manis, di depan teman-teman, di depan calon orangtua angkat bahkan di depan Tuhan. Mungkin Tuhan tahu, sikap rajin berdoanya, puasanya dan sikap penolongnya adalah <em>udang di balik batu</em>, dia sangat menginginkan mendapat orangtua angkat.<br />
&#8221; Farah, ada yang mencarimu.&#8221; Misel tersenyum manis padanya, pasti ada maunya.<br />
&#8221; Siapa ?&#8221; Senyum Misel semakin lebar.<br />
&#8221; Yuyon&#8230; dia bawa makanan loh&#8230;&#8221; Mood Farah langsung jelek. Untuk apa orang aneh itu datang ke sini ?? engga tahu diri banget sih ?!<br />
&#8221; Jangan tolak dia Farah, ini sudah yang ke-11 kalinya.&#8221;<br />
&#8221; Kamu menghitungnya? rajin sekali. Kamu sudah tahu jawabanku kan ?&#8221; Farah segera beranjak pergi dari tempat duduknya. Misel memandang Farah dengan tatapan sedih.<br />
&#8221; Hai Yuyon, kamu bawa apa ?&#8221; Misel segera mengambil makanan yang ada di tangan Yuyon.<br />
&#8221; Mana Farah ?&#8221; Yuyon berusaha menahannya.<br />
&#8221; Dia sedang jengkel, kamu tahu kan seperti apa Nona Sammy&#8230;Sini makanannya, biar aku berikan ke Farah,..&#8221;<br />
&#8221; Benar..?&#8221; Misel tersenyum manis.<br />
&#8221; Iya, aku janji&#8230;.&#8221; Mereka terdiam cukup lama.<br />
&#8221; Dia tidak mau menemuiku ya ?&#8221; Misel tersenyum tipis.<br />
&#8221; Mungkin, ini hari terakhirku di sini&#8230;.&#8221; Misel mengerutkan dahinya.<br />
&#8221; Hari terakhir ? mau kemana ?&#8221;<br />
&#8221; Aku mendapat pekerjaan, tapi tempatnya jauh&#8230;&#8221;<br />
&#8221; O&#8230;h&#8230;&#8221;<br />
&#8221; Bagaimana kakimu Misel, masih sakit ?&#8221; Misel menggeleng.<br />
&#8221; Tidak mau mengatakan apa-apa padaku ?&#8221; Misel tersenyum tipis.<br />
&#8221; Mau bicara apa ? aku gak tahu&#8230;&#8221; Misel mengangkat bahunya.<br />
&#8221; Maaf ya&#8230; untuk semuanya&#8230;.kamu mengerti kan.&#8221; Misel mengangguk. Perlahan Yuyon berdiri.<br />
&#8221; Eh, nanti aku akan berikan salam untuk Farah&#8230;&#8221; Yuyon menggeleng.<br />
&#8221; Andai semua bisa diubah&#8230;.&#8221; Yuyon geleng-geleng kepala pelan lalu beranjak menuju pintu depan.<br />
&#8221; Tidak perlu mengantar aku besok. Kita bertemu 3 tahun lagi ya&#8230;&#8221; Hari itu, Misel merasa dunianya jungkir balik.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
 <span><br />
&#8221; Anak-anak, besok kita akan merayakan hari kemerdekaan. Pak RT meminta kita untuk mengisi acara gerak jalan dan ikut perlombaan-perlombaan.<br />
&#8221; Uhuy, ketemu Pak RT yang ganteng&#8230;.&#8221;<br />
&#8221; Sut,.. Misel, memang kamu suka ya&#8230;sama&#8230;&#8221;<br />
&#8221; Enak aja, masa aku suka sama om-om, yang benar saja. Aku ingin menjodohkan Nona Jenny sama Pak RT&#8230;&#8221; Nona Jenny adalah wakil Nona Sammy.<br />
&#8221; Sekarang kamu jadi mak comblang ya..?&#8221;<br />
&#8221; Risa, Nona Jenny itu cocok banget sama Pak RT, dia lembut, keibuan, penyayang, sabar, beda sama Nona Sammy. Kalau Pak RT jadian sama Nona Sammy, beliau bisa jadi anggota ISTI&#8230;.&#8221;<br />
&#8221; Apa itu, Sel ?&#8221;<br />
&#8221; Ikatan suami takut Istri&#8230;.&#8221; Anak-anak yang duduk semeja dengan Misel kontan tertawa geli mendengar perkataan Misel.<br />
&#8221; Waktunya berdoa&#8230;&#8221; Nona Sammy membunyikan loncengnya.</p>
<p><span> Udara terasa panas sekali tapi mereka harus tetap berdiri di lapangan untuk mendengarkan pidato Pak RT.<br />
&#8221; Wargaku&#8230;. saya sangat senang kita semua bisa berkumpul di sini bersama-sama&#8230;.&#8221;<br />
&#8221; Hidup Pak RT&#8230; Hidup Pak RT&#8230;&#8221; Misel dan teman-temannya berdiri di dekat panggung dan terus bersorak setiap Pak RT menyelesaikan satu kalimat pidatonya. Setelah Nona Sammy menjewer telinga Misel, baru mereka diam. Di acara kerja bakti, Misel melirik ke arah Risa dan memberikan kode, ketika melihat Pak RT membantu Nona Jenny memasukkan sampah ke dalam plastik hitam.<br />
&#8221; Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu&#8230;.&#8221;<br />
&#8221; Hu&#8230;hu&#8230;hu&#8230;.&#8221; Teman-teman Misel kompak menjadi Backing Vokalnya.<br />
&#8221; Kemesraan ini, Harus ditindaklanjuti&#8230;.&#8221;<br />
&#8221; Ha&#8230;ha..ha&#8230;&#8221;<br />
&#8221; Kalian bisa diam tidak ?!&#8221; Tiba-tiba Nona Sammy membentak galak.<br />
&#8221; Nona Sammy, kami kan hanya merasa bahagia dengan keakraban antar warga. Coba kalau kegiatan ini sering diadakan, kita bisa semakin akrab dan tidak saling cuek antar warga, bukan begitu Pak RT&#8230;&#8221;<br />
&#8221; Eh ya, betul itu, pemikiran yang sangat bagus. Memang itu yang ingin saya tanamkan di warga sini&#8230;.&#8221; Misel tersenyum manis ke arah Nona Sammy yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irvinia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irvinia.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvinia.wordpress.com&amp;blog=5973375&amp;post=68&amp;subd=irvinia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irvinia.wordpress.com/2010/05/28/namaku-indana-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3add178357b1e46ef159e013f097fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irvnauli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Namaku Indana</title>
		<link>http://irvinia.wordpress.com/2009/09/24/namaku-indana/</link>
		<comments>http://irvinia.wordpress.com/2009/09/24/namaku-indana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 05:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irvnauli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Namaku Indana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irvinia.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[(Bab 1 : Masuk Asrama) Aku nekat melanggar perintah Ayah untuk kembali ke rumah tepat jam 2 siang. Pak Uman, supir yang mengantar jemputku ke sekolah, tampak sangat cemas dan butir-butir keringat mulai mengalir di pipinya. Tatapan galakku membuatnya tidak berani mengatakan sepatah katapun, entah siapa yang paling dia takuti saat ini, aku atau ayah? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvinia.wordpress.com&amp;blog=5973375&amp;post=25&amp;subd=irvinia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"><br />
(Bab 1 : Masuk Asrama)</p>
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"><br />
Aku nekat melanggar perintah Ayah untuk kembali ke rumah tepat jam 2 siang. Pak Uman, supir yang mengantar jemputku ke sekolah, tampak sangat cemas dan butir-butir keringat mulai mengalir di pipinya.<span id="more-25"></span></span></div>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Tatapan galakku membuatnya tidak berani mengatakan sepatah katapun, entah siapa yang paling dia takuti saat ini, aku atau ayah? Ada perasaan bangga (jujur saja), setiap kali aku bisa melawan perkataan ayah, walau harus kutebus dengan cambukan atau tidak makan selama 3 hari, aku sudah terbiasa, belum lagi harus mendengar caci maki ibuku, tapi aku sudah kebal. Tentu saja ibu takut dengan semua perilaku liarku(itu kata ibu), posisinya di dalam rumah selalu dalam bahaya. Sebagai istri kedua, posisinya selalu dikalahkan oleh istri pertama yang sangat dibencinya. Kebetulan yang sangat manis juga, ketika kutahu istri pertama ayahku adalah musuh ibu saat di Sekolah Dasar dulu&#8230;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">“ Dua hari lagi kamu akan masuk asrama, siapkan semua yang kamu butuhkan&#8230;eh, kamu mau pergi kemana ?” Langkahku terhenti.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">“ Ke tempat Sora..” Sora adalah anak ayah dari istri keempat, dan dia adalah pahlawanku. Dia wanita yang berhasil mencapai kesetaraan di rumah ini, tangan kanan ayahku. Saat Sora kabur dari rumah, ayah mencarinya selama 2 bulan, setelah itu dia menjadi orang yang berkuasa setelah ayah. Ayah mengagumi Sora karena kelihaiannya dalam melihat peluang bisnis, kemampuan bicaranya dalam 10 bahasa asing dan kehebatannya dalam mempengaruhi orang. Dia adalah replika ayah, tapi lebih hebat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">“ Dengan sikapmu yang seperti itu, bagaimana kamu bisa seperti Sora ?? Perbaiki sikapmu dan angkat derajat ibumu ini..!” Huf&#8230;ibu mulai marah-marah lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">“ Aku bukan duta besar ibu&#8230;.” Ibu melempar punggungku lagi dengan sendal, dia memang ibu yang sangat kasar, tapi dia ibuku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"><br />
Pak Uman semakin terlihat gelisah dan keringat semakin deras mengalir. Berkali-kali dia sapu wajahnya dengan sapu tangan yang ada di kantong bajunya.<br />
“ Non&#8230;”<br />
“ Pak Uman..” Langsung kusela dengan nada mengancam.<br />
“ Tapi non harus bersiap-siap untuk ke asrama besok.” Suaranya semakin pelan. Tiba-tiba kulihat beberapa laki-laki berpakaian hitam-hitam mengendarai motor dan mobil yang sangat kukenal, melalui kaca spion.<br />
“ Penghianat..” Pasti dia menekan tombol darurat yang ada di dalam mobil. Tombol itu digunakan untuk meminta bantuan kepada pasukan khusus ayahku. Aku tidak boleh kalah dari ayah&#8230;<br />
“ Kebut pak&#8230;” Kunyalakan peralatan khusus untuk mempercepat laju mobilku. Peralatan ini digunakan untuk melarikan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, contohnya seperti saat ini.<br />
“ Non&#8230;!”</span></p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">“ Plak! Plak !” Ini tamparan yang kesepuluh dari ayah, pipiku mulai terasa tebal. Dari tadi ayah tidak bicara sepatah katapun, hanya melotot ke arahku dan menamparku. Sepertinya ini gaya komunikasi terbaru dari ayah.<br />
“ Ayah&#8230;..ayah&#8230;.jangan marah-marah ayah, nanti darah tingginya kumat lagi. Aku bawakan minuman untuk ayah.” Ibu masuk ke dalam ruangan, dimana tadi hanya ada ayah dan aku. Untunglah ibu datang, pipiku pasti sudah berwarna ungu. Ibu tersenyum manis ke arah ayah, seraya meletakkan cangkir dan teko di atas meja. Dengan gaya yang anggun, ibu berjalan ke arahku.<br />
“ Plak ! Plak ! “ Sepertinya gaya komunikasi ayah dan ibu sudah sama. Ibu kembali duduk di samping ayah dan bersikap manja. Sora masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum, lalu menyenderkan tubuhnya ke tembok.<br />
“ Masalah lagi ayah ?” Mendadak dadaku berdetak lebih cepat, aku seperti bertemu artis idolaku.<br />
“ Aku bosan menghadapi anak ini.”<br />
“ Kenapa tidak dipasung saja, lalu kurung di gudang senjata.” Tidak kusangka Sora sekejam itu&#8230;yah, sebenarnya dia memang kejam, tapi tidak pernah sekejam ini padaku. Gudang senjata sangat gelap, bau dan banyak ular. Sama saja mati kalau dikurung di sana. Kulirik Ibu, wajahnya tampak pucat.<br />
“ Aduh Sora, masa kamu tega pada adikmu sendiri. Gudang senjata itu bukan tempat yang baik kan. Ayah, Indana masih kecil, masih suka main-main, tolong maafkan dia. Lain kali aku akan mengajarkan dia dengan lebih keras lagi.” Setelah itu, ibu membawaku ke kamar operasi dan menanam penyadap di tubuhku. Kali ini ibu tidak main-main.</span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Satu bulan yang lalu&#8230;</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Sandena adalah kakak tiriku yang paling cantik dan lembut, yang perilakunya tidak jauh berbeda dengan Sakai, adik laki-lakinya. Mereka kakak beradik yang rukun dan mudah dicintai oleh siapa saja. Rambut Sandena sangat hitam dan panjangnya mencapai pinggang, matanya bulat hitam dan kulitnya kuning langsat cerah, serta bau harum selalu tercium dari tubuhnya. Walau dia terlihat seperti Putri, tapi Sandena wanita yang sangat kuat dan cekatan, dia orang yang sangat dipercayai ayah untuk mengatur rumah tangga. Bisa dibilang, posisinya sama kuat dengan Sora, yang membuat mereka sering bersitegang tentang banyak hal. Tentu saja aku berpihak kepada Sandena walau aku sangat memuja Sora. Sora semakin merasa di atas angin saat dia tahu Sandena mempunyai seorang kekasih, yang sama sekali tidak memenuhi kriteria ayah. Kira-kira satu bulan yang lalu, aku melihat airmata Sandena terus mengalir saat dia duduk di pelaminan. Aku heran, hati ayah terbuat dari apa ketika kulihat beliau tertawa dengan para undangan, saat anaknya menangis dan terlihat putus asa, di hari dimana seharusnya dia merasa sangat bahagia.<br />
“ Ibu Ahca, Sandena adalah kuda liar dan dia akan baik-baik saja.” Selama satu minggu aku rajin mengunjungi ibunya Sandena yang terus menangis, karena menyesali dirinya yang tidak mampu menghalangi keputusan ayah, yang menikahkan Sandena dengan lelaki pilihannya.<br />
“ Indana, ibu sangat menyesal tidak bisa melindungi Sandena.” Tentu saja Ibu Ahca merasa sangat menyesal, karena semua tahu dia adalah istri kesayangan ayah. Semua ini bisa terjadi karena hasutan Sora, siapa lagi yang akan mengambil keuntungan dari hal ini ?<br />
“ Sandena, kau adalah kuda liar nak, jangan pernah putus asa dengan hidup yang kau jalani saat ini. Maaf ibu tidak bisa melindungimu. Selesaikan tangismu hari ini dan tunjukkan kepada ayah, kalau dia sudah salah dengan memandangmu hanya sebelah mata. Aku selalu menyayangimu, nak.” Setelah Ibu Ahca menunjukkan suratnya untuk Sandena, kuputuskan untuk berhenti mengunjunginya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;text-align:justify;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Sakai</span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"> adalah cinta pertamaku, sudah lama aku menyimpan kekaguman padanya. Dia yang paling memperhatikan aku, melindungiku (bahkan kakak kandungku Gutages, tidak pernah perduli padaku), dan memuji setiap hal yang aku lakukan, walau kadang aku merasa sangatlah konyol. Rasanya, aku tidak sanggup mencintai orang lain seperti aku mencintai </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Sakai</span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">. Setiap pagi dia akan datang ke kamarku dan membuka semua pintu serta jendela, agar aku segera bangun. Lagu yang dia nyanyikan selalu sama, yang diciptakan khusus untukku.<br />
“ Pagi ini sangat indah, burung bernyanyi dan bunga tersenyum, karena Indana bangun pagi-pagi. Gadis cantikku tertawa dan tawanya hanya untukku&#8230;” Hati perempuan mana yang tidak berbunga-bunga mendengar lagu seperti itu? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"><br />
&#8220;Sudah semua ?” Jam 4 pagi, dibalut udara yang segar dan dingin, ayah berdiri dengan tegak di samping mobil. Beliau sendiri yang akan mengantarku ke asrama dan tidak kulihat satu celahpun untuk melarikan diri. Lagipula ibu sudah menanam penyadap di lenganku.<br />
“ Sudah semua ayah.” Dadaku berdetak lebih cepat, merasakan kehadiran </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Sakai</span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"> di sebelahku. Wajahnya tampak segar ditambah kemeja warna biru yang dia kenakan, semakin membuat dia laksana Pangeran di mataku.<br />
“ Ayah, aku ikut mengantar Indana ?” Gelengan ayah membuatku ingin menjerit keras. Tidak bisakah ayah melihat aku bahagia untuk saat terakhir, aku harus berpisah dengan </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Sakai</span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"> untuk waktu yang sangat lama dan itu tidak mudah untukku. Apakah ini cara Ayah untuk menunjukkan kekuasaannya padaku ??<br />
“ Indana, jaga dirimu baik-baik di </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">sana</span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">. 6 tahun bukan waktu yang lama dan nanti kita akan berkumpul lagi, sayang. Kamu harus kembali dan menjadi seseorang yang berguna untuk keluarga ini.” Aku tidak ingin menangis di depan </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">Sakai</span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">, kutahan airmataku.<br />
“ Ibu Ahca dan Sandena kirim pesan untukmu, mereka bilang akan terus menunggu matahari di rumah ini kembali. Tanpamu, rumah ini sepi karena tidak ada yang berani membuat ayah berteriak kesal&#8230;.” Aku tersenyum lebar. Sakai selalu berhasil membuat perasaanku menjadi lebih baik.<br />
“ Ayo berangkat.” Perlahan-lahan, rumah dimana aku berlindung semakin menghilang dari pandanganku. Tiba-tiba aku merasakan ketakutan, tidak ada yang bisa melindungiku di </span><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">sana</span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;">.</span></div>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"></p>
<p style="text-align:justify;">&lt;<br />
Aku dan Pak Uman berjalan di belakang seorang lelaki yang masih sangat muda. Jangan tanya kenapa bukan ayah yang mengantarku, karena memang aku tidak cukup penting untuknya.<br />
“ ini kartu pengenalmu dan nomor kamarmu adalah&#8230;.1180. Setiap kamar di huni oleh 4 orang, jangan lupa untuk memperhatikan jam pagi dan jam malam atau kamu akan mendapatkan banyak masalah. Silahkan bapak lewat sini.” Cara mengusir yang sangat halus. Pak uman tampak bingung karena terpaksa meletakkan tasku di depan lobi gedung dan mengikuti lelaki tersebut.<br />
“ Hanya penghuni yang boleh naik ke atas.” Pak Uman hanya mengangguk-angguk seraya melirik ke arahku. Saat aku mengangguk pelan, Pak Uman melanjutkan langkahnya dengan mantap.<br />
“ Huf&#8230;1180, sepertinya tidak akan sulit mencarinya.” Aku masuk ke dalam lift dan&#8230;aku bingung. Aku harus tekan nomor berapa ya ? kamar itu ada di lantai berapa ? Lift terbuka lagi dan seorang lelaki masuk seraya tersenyum.<br />
“ Pasti bingung. Berapa nomor kamarmu ?”<br />
“ Hm..1180.”<br />
“ Tekan saja 1180 dan lift ini akan segera berada di depan kamarmu.” Semoga lelaki ini tidak sedang mempermainkan aku dan membuatku semakin terlihat bodoh. Saat pintu lift terbuka, langsung ada pintu di depan lift.<br />
“ Gunakan kartu pengenalmu untuk membuka pintu kamarmu. Besok jangan lupa untuk mendaftarkan scan jarimu di kantor pusat keamanan.” Aku mengikuti petunjuk lelaki tersebut dan berhasil membuka pintu kamarku. Sebelum aku sempat berterima kasih, lift sudah kembali tertutup. kulihat 3 orang wanita sedang tersenyum ke arahku, jadi mereka teman sekamarku.<br />
“ Selamat datang penghuni terakhir. Pasti kamu yang bernama Indana ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;font-size:10pt;"></p>
<p style="text-align:justify;">&lt;<br />
“ Indana, kamu sudah mengumpulkan berapa point ?” Bella tahu-tahu sudah berdiri di sampingku. Tempat ini sangat luas dan banyak sekali yang hilir mudik.<br />
“ Baru 80, kamu sudah berapa ?”<br />
“ Wah, hebat sekali, aku baru 35 masih jauh darimu.”<br />
“ Masih banyak waktu kok, masih ada 2 jam lagi kan. Kamu pasti bisa Bella.” Aku sedikit kaget melihat wajah Bella yang bersemu merah.<br />
“ Terima kasih ya untuk&#8230;.kepercayaannya. aku akan coba lagi.”<br />
“ Ok&#8230;pasti bisa&#8230;” Cara masuk asrama yang sangat konyol, masa harus berkenalan dengan banyak orang dan mendapatkan point, 5 point untuk 1 orang. Masih harus mencapai 20 point lagi, itu nilai minimal yang harus dicapai malam ini, kalau tidak&#8230; oh ya, kenapa sejak berada di sini aku belum membuat masalah juga ? rasanya moodku sedang tidak bagus.<br />
“ Hai anak baru, yang ketemu di lift tadi kan. Sudah berapa pointmu ?” Lelaki itu langsung mengambil papan skorku.<br />
“ Hebat juga, sudah 80. kebetulan teman-temanku banyak, biar mereka membantumu.” Aku hanya terpaku di tempatku melihat mereka tampak bersemangat sekali mengisi papan skorku. Rasanya aku ingin meminta mereka membantu Bella juga, tapi aku tidak mengenal mereka.<br />
“ Lihat&#8230;skormu sekarang sudah 200, itu hebat sekali loooh. Sampai ketemu lagi.” Lagi-lagi dia sudah menghilang sebelum aku mengucapkan terima kasih. Terdengar suara mike dinyalakan&#8230;<br />
“ Selamat malam untuk semua anak baru dan selamat datang kembali untuk para senior. Terima kasih sudah memilih tempat ini dan jangan lupa&#8230;sistem Drop Out akan diterapkan tahun ini, jadi untuk siswa-siswi yang sudah berada di pinggir jurang, silahkan segera mencari sekolah lain. Jangan berfikir untuk menyogok kami, karena tidak akan berhasil selama saya menjadi ketua sekolah di sini. Nikmati malam ini dan hati-hati dengan nilai kalian. Salam Kristal.” Terdengar seruan tidak suka dari banyak orang. Kristal ???<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p></span> </p>
<p></span></p>
<p></span></p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irvinia.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irvinia.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvinia.wordpress.com&amp;blog=5973375&amp;post=25&amp;subd=irvinia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irvinia.wordpress.com/2009/09/24/namaku-indana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc3add178357b1e46ef159e013f097fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irvnauli</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
